Harta Karun (Binti NR)
#cerpen #fiksi #diaryruu
_
Senja masih memberikan kehangatan, disalah satu desa ujung di kota kecil. Penduduknya belum begitu ramai. Meski begitu sudah lumayan terlihat rapat bangunan rumah dari batu bata, tapi lebih banyak dari anyaman bambu.
Suasana pedesaan masih begitu kental. Lebih banyak ibu-ibu rumah tangga yang menganggur tanpa pekerjaan. Jika pagi atau sore saat sudah bertugas di dapur, mereka lebih memilih duduk dalam satu kerumunan untuk saling berbincang.
Untuk pekerjaan mereka lebih sering mengandalkan tenaga, jika ada borongan untuk menanam padi (tandur) barulah berbondong-bondong bersama grup yang sudah dibuat untuk bekerja. Atau ketika ada panggilan untuk menyebar biji jangung (icir). Untuk hal-hal seperti ini, jangan diragukan lagi. Itu memang keahlian mereka. Entah karena mungkin memang sudah terlatih dan terbiasa melihat sejak kecil. Karena mayoritas penduduk memang petani.
Tidak semua, ada juga yang hidup hanya mengandalkan panggilan pekerjaan tak menentu. Menjadi buruh dengan bayaran suka rela atau bahkan tak dibayar. Kadang, beberapa bungkus makanan menjadi upah atas tenaga yang sudah dikeluarkan. Seperti salah satu keluarga ini, yang masih tinggal menumpang dengan orangtuanya.
_
"Nok ... mandi, gek tumbas gulo teng warunge Pakde Narto. Bapak dilik meneh muleh, gae kopi gulone mboten enten, melas." tutur seorang perempuan berusia 35 dari balik pintu dapur.
(Nduk ... mandi, terus beli gula di warungnya Pakdr Narto. Bapak sebentar lago pulang, buat kopi gulanya ndak ada kasian.")
"Nggeh, Mak."
(Iya, Mak.)
Meski sudah berkata demikian, anak berambut keriting itu masih asik dengan benda yang ada di depannya. Sepuluh menit berlalu, sedangkan mamaknya di dapur hampir selesai memyiapkan makan malam untuk sekeluarga.
Martini masih tinggal dengan mertua. Belum bisa membangun rumah juga sebuah beban tersendiri baginya. Apalagi dengan pekerjaan suaminya yang hanya sebagai buruh. Penghasilan tak menentu, juga pekerjaan yang tak pasti ada setiap harinya.
Semesta sudah dua hari ini berpihak baik pada keluarga Martini. Karena sang suami mendapat lokak pekerjaan dari temannya. Bongkar-pasang pasir. Adanya pembangunan pesantren di ujung desa membawa berkah tersendiri untuk mereka. Karena dengan begitu akan sedikit meringankan beban dapur. Seperti yang dikatakan pak Ahmad minggu lalu, bahwa bapaknya Ais akan ikut kerja sampai proyeknya selesai.
"Kar, wes ... pokok e awakmu milu aku wae. Sak kerja-kerjane nek gelem, milu ngrampungne gawean nang pondok e Pak Haji Darmin." Ajak pak Ahmad penuh dengan semangat.
(Kar, udah ... pokoknya kamu ikut aku aja. Sekerja-kerjanya kalau mau, ikut nyelesaiin kerjaan di pondoknya Pak Haji Darmin.)
"Sampean seng nyekel to, Pak?" tanya lelaki berkulit hitam itu.
(Kamu yang pegang to, Pak?)
"Iyo to, alhamdulillah lah, diserahne nganti rampung iki. Makakne iki tak sempetne rene, pie-pie yo panggah awakmu seng kudu milu."
(Iya to, alhamdulillah lah, diserahin sampai selesai iki. Makanya ini tak sempetin ke sini, gimana-gimana ya tetep kamu yang harus ikut.)
Pak Ahmad memang sahabat baik suaminya, satu-satunya teman sedari kecil yang masih sering bertemu sampai saat ini. Bahkan pak Ahmad yang paling sering membantu keluarga Martini.
_
"Ya Allah Gustiiii, Ais gek ndang menyat ora kui!" teriak Martini dari dalam rumah.
(Ya Allah Gustiiii, Alisa cepet berdiri ndak itu!
"Nggeh ... Mak," sahutnya.
(Iya ... Mak.)
Ais buru-buru mengubur benda yang baru saja dimasukan ke dalam lubang. Lubang sedalam dua pulu centimeter yang sedari tadi ia gali dengan ranting. Tidak lama, Mamaknya yang sudah mulai emosi berjalan menghapirinya.
"Nok, ya Allah kui bajumu lemah tok. Seng sampean kubor ki opo?" tanya Martini, dia kini sudah ikut jongkok bersanding dengan anaknya.
(Nok, ya Allah itu bajumu tanah semua. Yang kamu kubur itu apa?)
"Bajune mengke Ais cuci, Mak. Kan baju seng nyuci Ais dewe. Mengke Ais sukani rinso seng katah amreh resik, Maak." Penjelasan anaknya dengan penuh semangat.
(Bajunya nanti Ais cuci langsung, Mak. Kan baju yang nyuci Ais sendiri. Nanti Ais kasih rinso yang banyak biar bersik, Maak.)
Martini berusaha mengatur napas. Beristigfar berkali-kali. Dia tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Karena emosi yang menguasai mebuat dirinya sampai memukul dan menyakiti anaknya. Sejak saat itu Martini berjanji, itu adalah pertama dan terakhir di dalam hidupnya. Bagaimana pun, Ais adalah putri satu-satunya yang dimiliki. Bahkan, dulu untuk melahirkan dan menyelamatkan nyawanya pun perlu sebuah perjuangan yang tidak mudah.
Setelah banyak waktu berusaha. Martini ikhlas menunggu, hingga di tahun ke enam pernikahan, akhirnya sebuah janin Tuhan titipkan padanya. Sebelumnya karena lama dia tidak hamil-hamil membuat tersisihkan dari keluarga. Terlebih sikap mertuanya yang semakin hari menunjukan ketidaksukaan pada Martini. Dibanding-bandingkan dengan menantu lain, bahkan tak jarang hampir setiap hari mendengarkan kalimat-kalimat yang mnyakiti hatinya.
Semua orang seolah menjadikan Martini sebagai bahan perbincangan mereka. Bukan hanya perkataan dari tetangga, tapi secara terang-terangan mertuanya juga berkata-kata yang tidak semestinya.
Martini hanya bisa bersabar. Berusaha menyembunyikan kesedihan dari Karto, suaminya. Dia tidak ingin hal-hal itu menjadi beban untuk suaminya. Bagaimana pun, Karto adalah sosok lelaki yang bertanggung jawab. Sangat menyayangi Martini meski dalam keadaan seperti itu, bahkan masih setia dalam usia pernikahan yang lama saat Martini tak kunjung mengandung. Karena bagaimana pun keadaan yang dialami, mereka menyadari semua itu adalah sebuah konsekuensi dari sebuah pernikahan yang harus dijalani.
Ketika menentukan sebuah pilihan hidup. Bukan hanya kebahagiaan yang ada di dalamnya. Akan ada berbagai macam rasa. Sebuah sakit lengkap dengan lara pun pasti akan ditemui. Hanya saja, kembali bagaimana masing-masing menyikapi. Karena, ikhlas dan sabar adalah kunci yang paling utama.
_
"Nok .., sampun to gek papung," ucap Martini yang sedari tadi berusaha meredakan emosi.
(Nok ... udah to buruan mandi,)
Ais tidak mengindahkan perkataan mamaknya. Tangannya masih asik menepuk-nepuk gundukan yang mulai terlihat rapi. Dari pintu dapur sosok Karto terlihat, berjalan menghampiri mereka.
"Wes sore kok Genduk durung mandi to, Dek?" tanya lelaki berkulit hitam pada Martini.
(Udah sore kok Genduk belum mandi to, Dek?)
"Loh, Mas. Sampun wangsul to. La Genduk tak kon mandi ket mau ga menyat. Bar jikok banyu boan langsung mandi kaya biasane, iki mau kok malah mbuh ngerjani opo kui, bajune lho sampek kotor kabeh, Mas. Manute gur kambe sampean terae, jajal takonono." jelas Martini pada suaminya.
(Loh, Mas. Udah pulang to. La genduk tak suruh mandi dari tadi nggak berangkat. Selesau ambil air kirain langsung mandi seperti biasanya, ini tado kok malah gatau ngerjain apa itu, bajunya lho sampai kotor semua, Mas. Nurutnya cuma sama kamu, coba tanyain.)
Ais memang selalu patuh dan manja sama Bapaknya. Karena Karto tidak pernah memarahinya bahkan ketika berkata dengan nada sedikit tinggi pun sama sekali tidak pernah. Karto selalu bersikap lembut pada Ais.
Beberapa detik setelahnya Karto sudah ikut berjongkok. Sedangkan Ais yang menyadari kedatangan Bapaknya mendongak dan tertawa sumringah sampai memperlihatkan gigisnya.
"Pak, Ais punya harta karun," ucapnya semangat dengan mata berkaca-kaca, seolah memiliki kebahagiaan.
"Harta karun?"
"Nggeh, Pak. Kan kemarin Ais disukani yotro kaleh Pakde Mamad. Hehe ...."
(Iya, Pak. Kan kemarin Sa dikasih uang sama Pakde Mamad. Hehe ....)
"Yotrone sakniki pundi Cah Ayu?" tangan kekar yang kini semakin terlihat otot-ototnya karena terlalu sering mengangkat beban berat itu dengan lembut mengusap-usap rambut kriting Ais.
(Uangnya sekarang mana Cah Ayu?)
"Ais kubur, Pak. Besok kalau udah lama dadi harta karun, Pak. Uangnya jadi buaanyak, Ais nanti bisa sekolah TK bareng Dita. Bapak sama Mamak bisa beli rumah, ben Mamak boten diseneni kaleh Mbah Uti terus. Mamak mengke saget tumbas baju, kompor gas juga, ben Ais gak cari blarak kaleh kayu nang kebon. Tapi harus nunggu dangu, Pak, Mak. Nek sampun dangu mengke digali terus duite jadi banyak."
Ais menjelaskan pada Bapak Mamaknya dengan lincah penuh semangat.
(Sa kubur, Pak. Besok kalau sudah lama jadi harta karun, Pak. Uangnya banyak, nanti Sa bisa sekolah TK bareng sama Dita. Bapak bisa beli rumah, biar Mamak ndak dimarahin sama Mbah Uti terys. Terus Mamak nanti bisa beli baju, kompor gas juga, biar Sa ndak nyari daun kelapa sama kayu di kebon. Hehe. Tapi harus nunggu lama, Pak, Mak. Kalau sufah lama nanti digali terus uangnya bisa jadi banyak.)
Anaknya menyampaikan deretan harapan dan keinginannya dengan sikap dan nada polos khas anak usia lima tahun. Sedangkan kedua orangtuanya yang kini sedang bergegaman tangan masih tidak percaya jika anaknya memiliki pemikiran seperti itu. Selama ini memang Martini selalu mendapat omelan dari mertuanya di depan anaknya. Bahkan pernah dibentak sangat keras.
Karto dan Martini hanya bisa saling menguatkan, karena apa yang baru saja putrinya katakan adalah hal yang sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan untuk mereka sebagai orangtua.
_
Tepatnya setelah tiga hari lalu sepulang dari rumah Dita, satu-satunya teman sekaligus orangtua yang mau menerima Ais. Karena perbedaan sosial menjadi masalah penting di desa itu.
Dita adalah anak ke tiga dari pak Ahmad, yang usianya lebih tua dua bulan dari Ais. Di sana gadis berambut keriting itu bisa belajar dan menemukan banyak hal yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Seperti buku cerita yang dipinjamkan Dita untuknya. Buku anak yang berjudul 'Petualangan Ani dan Harta Karun'. Ais yang usianya masih menginjak lima tahun sudah termasuk anak yang cepat memahami. Hanya dengan membaca dia sering menerpakan di kehidupannya. Meski tidak paham betul hal-hal yang dia lakukan itu salah atau benar. Dari membaca dan melihat buku cerita bergambar, dia bisa menemukan banyak hal tentang kesabaran, keberanian, kegigihan, juga berbagai cerita, pencarian harta karun adalah salah satunya. Dengan mudah otaknya bereksperimen dan membayangkan hal-hal yang mustahil.
Seperti biasa, setiap kunjungan pak Ahmad akan memberinya uang jajan. Biasanya uang pemberian pak Ahmad sebagian akan ia tabung dan sebagian lagi, ia berikan untuk Mamaknya.
"Mak, niki yotro disukani Pak Mamad, ge tumbas tempe," ucapnya seperti ritwal khusus pada Martini.
(Mak, ini uangnya dikasih Pak Mamad, buat beli tempe,)
Begitulah. Anak berusia lima tahun itu lebih cepat memahami keadaan, karena tanpa sepengetahuan orangtuanya, Ais hampir setiap hari mendengar kalimat dan perkataan-perkataan dari oranglain yang tidak sepantasnya ia dengar. Bukan hanya tetangga, bahkan juga dari keluarga dan neneknya sendiri.
"Bocah nyusahne tok!"
(Anak nyusahin aja!)
"Kesuen neng jero weteng, gedine gur nyusahne!"
(Kelamaan di dalam perut, besarnya cuma nyusahin!)
"Ngopo jalok sekolah barang, rausah sekolah, ngewangi Mamakmu wae!"
(Ngapa minta sekolah segala, ndak usah sekolah, bantuin Mamakmu aja.)
"Balek kono, rausah doalanan karo anakku."
(Pulang sana, jangan mainan sama anakku.)
Berbagai perkataan dan hinaan yang diterima, secara tidak langsung menguatkan hatinya. Awalnya Ais tidak mengerti kenapa semua orang menjauhinya.
Tapi karena setiap hari sebelum tidur, Martini selalu berpesan padanya. Jika ada orang yang menyakiti, selama masih dalam perkataan, lebih baik diam dan doakan semoga besok orang itu berubah menjadi baik.
Setiap hari pesan itu disampaikan, sampai Ais hapal, bahkah tak jarang sering mendahului Martini sebelum mengatakannya.
Dalam kaca mata sebagian orangtua, kadang mereka melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja. Padahal jika setiap orangtua bisa menempatkan sesuai porsinya, sepertinya tidak akan pernah ada hati mungil yang merasa tersakiti.
Membully tanpa disadari kadang sudah menjadi hal yang lumrah dan sangat biasa. Padahal, semua itu adalah penghancur mental yang paling ampuh untuk hati yang masih terlampau polos.
Tuhan tidak akan memberikan sebuah ujian yang rumit. Apalagi sebuah sakit tanpa obat. Seperti mereka, meski hidup terus menekan hingga menjadi sakit. Tapi dalam bentuk yang begitu indah telah Tuhan hadirkan sosok mungil yang selalu menghibur bahkan menguatkan. Malaikat kriting yang faktanya lebih hebat dari keduanya.
Kecilnya kesadaran, sering membuat oranglain merasa terluka oleh sikap kita. Sebagus dan setinggi apa pun pintu rumah, jika di dalamnya masih terdiri lebih dari satu kepala keluarga.
Percayalah, akan lebih nyaman dan menjadi indah sebuah pintu biasa dari papan yang terpaku pada lapisan babu-bambu sederhana, jika di dalamnya hanya ada satu kepala keluarga.
END.
0 Comments